Ny T mengalami kesulitan memulai tidur dan hanya tidur kurang lebih tiga jam dalam satu malam tetapi setiap satu jam sekali selalu terbangun. Kondisi ini mengakibatkan Ny T selalu merasa tubuhnya tidak fresh dan berat badannya mengalami penurunan dari 52 kg menjadi 47 kg. Penyebab Ny T mengalami insomnia adalah suami Ny T menuduh Ny T telah berselingkuh karena hasutan tetangga yang tidak suka pada Ny T. Ny T berusaha menjelaskan pada suaminya bahwa dirinya tidak berselingkuh, tetapi suami Ny T tetap tidak percaya. Suami Ny T selalu marah-marah pada Ny T dan melarang Ny T untuk berbincang-bincang dengan tetangga di luar rumah. Suami Ny T juga pelit dalam memberikan uang belanja dan melarang Ny T untuk berdagang. Pada awalnya, Ny T berusaha untuk tidak terlalu serius dalam memikirkan masalahnya dan menuruti keinginan suaminya, namun suami Ny T tetap memperlakukan Ny T dengan buruk. Suami Ny T selalu memarahi Ny T sehingga Ny T selalu memikirkannya dan merasa tertekan. Ny T dan suaminya juga pisah ranjang. Ny T juga takut bercerita pada suaminya bahwa dirinya mengalami kesulitan tidur setiap hari.
Apakah Anda atau keluarga Anda termasuk orang yang sedang mengalami insomnia? Insomnia atau kesulitan tidur, bagi sebagian orang dianggap sebagai suatu hal yang biasa, namun jika insomnia ini dibiarkan maka akan mengakibatkan berbagai akibat yang mengganggu kondisi psikologis dan fisik, bahkan kematian. Sebenarnya, apa insomnia itu? Jika insomnia disebabkan karena faktor psikologis seperti stres dalam jangka waktu tertentu yang disebabkan situasi social, masalah pribadi yang tidak kunjung selesai, persoalan KDRT, krisis ekonom rumah tangga, krisis dalam bisnis, dll maka insomnia ini tergolong insomnia yang disebabkan faktor psikologis. Namun, jika Anda hanya mengalami insomnia hanya 1 atau 2 hari dan hal ini disebabkan karena lingkungan tempat tinggal Anda yang bising maka Anda hanya perlu pindah tempat tinggal untuk menyembuhkan insomnia Anda. Selain itu, jika Anda mengalami insomnia karena sedang mengalami sakit fisik maka insomnia tersebut akan hilang setelah Anda sembuh. Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang insomnia yang disebabkan karena faktor psikologis, karena dapat menyebabkan berbagai dampak yang merugikan pada penderita insomnia, bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu apa definisi insomnia itu.
Apakah Insomnia ?
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), mendefinisikan insomnia sebagai kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, merasa tidak fresh pada waktu bangun pagi dan mengalami kualitas tidur yang buruk. Setelah Anda mengetahui definisi insomnia, apakah Anda sudah mulai memperhatikan diri Anda, apa Anda memang mengalami insomnia atau tidak. Untuk lebih jelasnya, Anda perlu mengetahui apa saja gejala-gejala insomnia. Namun, perlu diingat bahwa disini kita sedang membahas insomnia karena faktor psikologis, bukan faktor yang lain
Gejala Insomnia
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), menunjukkan beberapa gejala dimana seseorang dapat didiagnosis sedang menderita insomnia karena faktor psikologis, yaitu:
1. Kesulitan untuk memulai, mempertahankan tidur, dan tidak dapat memperbaiki tidur selama sekurangnya satu bulan merupakan keluahan yang paling banyak terjadi.
2. Insomnia ini menyebabkan penderita menjadi stres sehingga dapat mengganggu fungsi sosial, pekerjaan atau area fungsi penting yang lain.
3. Insomnia karena faktor psikologis ini bukan termasuk narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritme sirkadian atau parasomnia.
4. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena gangguan mental lain seperti gangguan depresi, delirium.
5. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena efek fisiologis yang langsung dari suatu zat seperti penyalahgunaan obat atau kondisi medis yang umum.
Dengan adanya gejela-gejala yang disebutkan oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), maka insomnia karena faktor psikologis dapat mengganggu berbagai fungsi sosial. Pertanyaannya, apa penyebab terjadinya insomnia karena faktor psikologis? Ingin tahu jawabannya, mari kita ikuti pembahasan berikut.
Penyebab Insomnia
International Classification of Sleep Disorder-Revised (ICSD-R), mengatakan bahwa penyebab terjadinya insomnia adalah masalah-masalah psikologis, seperti mengalami stress, kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, depresi disebabkan factor tekanan pekerjaan, trauma karena mengalami bencana, mengalami kekerasan atau KDRT, mengalami pengalaman traumatis, dll. Insomnia dapat menjadi kronis jika tidak segera ditangani. Bagaimana siklus terjadinya insomnia pada tingkat yang kronis?
Siklus Insomnia Kronis
Jika seseorang mengalami insomnia sementara karena faktor psikologis (mengalami kesulitan tidur dengan nyenyak selama kurang lebih satu malam dan kurang dari empat minggu) tetapi tidak dapat beradaptasi dengan penyebab insomnia (tidak mampu mengelola stres tersebut secara sehat) maka akan mengakibatkan seseorang mengalami insomnia jangka pendek (kesulitan tidur nyenyak selama empat minggu hingga enam bulan). Jika insomnia jangka pendek ini tetap tidak dapat diatasi oleh si penderita maka akan mengakibatkan insomnia kronis. Jika terjadi insomnia kronis maka akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk penyembuhannya. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas contoh kasus di atas.
Analisa Kasus
Pada kasus di atas jika kita cermati merupakan kasus insomnia kronis. Mengapa? Karena pada kasus di atas menunjukkan gejala-gejala insomnia, seperti kesulitan memulai tidur, selalu terbangun setiap satu jam sekali, waktu tidur hanya kurang lebih tiga jam dalam satu malam, selalu merasa tubuhnya tidak fresh, dan mengalami kesulitan tidur lebih dari enam bulan. Jika kita analisis, penyebab insomnia pada kasus di atas adalah karena mengalami KDRT dari suaminya yang mengakibatkan si istri tertekan dan selalu memikirkan masalahnya sehingga terjadilah insomnia kronis.
Dampak insomnia kronis yang dialami si istri pada kasus di atas adalah selalu merasa tubuh tidak fresh dan mengalami penurunan berat badan dari 52 kg menjadi 47 kg. Apakah Anda atau keluarga Anda juga mengalami kasus yang sama seperti di atas? Perlu untuk diketahui bahwa insomnia dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan bagi si penderita. Apa saja dampak dari insomnia?
Dampak Insomnia
Insomnia dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan, yaitu:
1. Depresi
2. Kesulitan untuk berkonsentrasi
3. Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu
4. prestasi kerja atau belajar mengalami penurunan
5. Mengalami kelelahan di siang hari
6. Hubungan interpersonal dengan orang lain menjadi buruk
7. Meningkatkan risiko kematian
8. Menyebabkan kecelakaan karena mengalami kelelahan yang berlebihan
9. Memunculkan berbagai penyakit fisik
Dampak insomnia tidak dapat di anggap remeh, karena bisa menimbulkan kondisi yang lebih serius dan membahayakan kesehatan dan keselamatan. Oleh karenanya, setiap penderita insomnia perlu mencari jalan keluar yang tepat.
Solusi Mengatasi Insomnia
Insomnia yang terjadi karena faktor psikologis lebih baik diobati dengan psikoterapi karena penyebabnya adalah faktor-faktor psikologis. Penting bagi penderita insomnia untuk secara terbuka mengatakan pada Psikolog,terapis atau konselor tentang awal mula penyebab insomnia sehingga dapat ditentukan terapi apa yang sebaiknya diberikan. Selain itu, keluarga si penderita insomnia juga harus memberi dukungan pada penderita agar insomnia yang dialaminya perlahan-lahan dapat diturunkan sampai sembuh. Mengapa pada psikolog ? Psikolog akan membantu penderita memahami akar penyebab insomnia, melihat dari perspektif yang obyektif (tinjauan psikologis) masalah yang dialami dan mengarahkan penderita pada sikap, strategi dan pola pikir yang benar, tepat dalam mempersepsi masalah dan menemukan solusinya.
Apa saja terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia? Ada beberapa terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, yaitu:
1. CBT (Cognitive Behavioral Therapy)
CBT digunakan untuk memperbaiki distorsi kognitif si penderita dalam memandang dirinya, lingkungannya, masa depannya, dan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga si penderita merasa berdaya atau merasa bahwa dirinya masih berharga.
2. Sleep Restriction Therapy
Sleep restriction therapy digunakan untuk memperbaiki efisiensi tidur si penderita insomnia.
3. Stimulus Control Therapy
Stimulus control therapy berguna untuk mempertahankan waktu bangun pagi si penderita secara reguler dengan memperhatikan waktu tidur malam dan melarang si penderita untuk tidur pada siang hari meski hanya sesaat.
4. Relaxation Therapy
Relaxation Therapy berguna untuk membuat si penderita rileks pada saat dihadapkan pada kondisi yang penuh ketegangan.
5. Cognitive Therapy
Cognitive Therapy berguna untuk mengidentifikasi sikap dan kepercayaan si penderita yang salah mengenai tidur.
6. Imagery Training
Imagery Training berguna untuk mengganti pikiran-pikiran si penderita yang tidak menyenangkan menjadi pikiran-pikiran yang menyenangkan.
Banyak di antara para penderita insomnia karena factor psikologis yang menggunakan obat tidur untuk mengatasi insomnianya. Namun penggunaan yang terus menerus tentu menimbulkan efek samping yang negative, baik secara fisiologis (efek terhadap organ dan fungsi organ tubuh) serta efek psikologis. Logikanya, insomnia yang disebabkan factor psikologis, berarti factor psikologis itu lah yang harus di atasi, bukan symtomnya. Kalau kita hanya focus mengatasi simtom-nya dengan minum berbagai obat tidur, maka ketika mata terbuka, masalah akan datang kembali, bahkan akan dirasa lebih berat karena dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi pada akar masalah.
Perlu diketahui, bahwa keberhasilan terapi tergantung dari motivasi si penderita untuk sembuh sehingga si penderita harus sabar, tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalani sesi terapi. Selain itu, sebaiknya terapi yang dilakukan juga diiringi dengan pemberian terapi keluarga. Hal ini disebabkan, dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita dilibatkan untuk membantu kesembuhan si penderita. Dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita juga diberi tahu tentang seluk beluk kondisi si penderita dan diharapkan anggota keluarganya dapat berempati untuk membantu kesembuhan si penderita.
Solusi mencegah insomnia
Insomnia karena faktor psikologis dapat dicegah dengan cara memanage stres secara positif dan jika ada mengalami masalah sebaiknya sharing pada seseorang yang dapat Anda percaya. Semoga dengan pembahasan tentang insomnia ini, dapat memberikan manfaat bagi Anda. Dengan informasi ini, diharap kita pun bisa memahami penderita insomnia dan dapat memberikan bantuan yang tepat. Perhatian dan empati terhadap penderita insomnia, bisa sedikit mengobati kegalauan emosi jiwanya. Semoga bermanfaat.
merupakan suatu blog yang menyuguh kan berbagai informasi seputar dunia kesehatan....
Tampilkan postingan dengan label PSIKIATRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKIATRI. Tampilkan semua postingan
Kamis, 16 Desember 2010
Jumat, 17 September 2010
GANGGUAN BIPOLAR
Gangguan Bipolar
Deskripsi
Tiap manusia mengalami pasang surut emosi. Terkadang berada pada puncak emosi, namun terkadang merasa sangat depresi. Gangguan ini seperti memiliki dua kutub emosi, oleh karena itu disebut gangguan bipolar (Bipolar Disorder). Gejala gangguan bipolar dapat mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial, dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Meskipun gangguan bipolar ini bisa diobati, banyak orang tidak mengenali tanda-tanda peringatan dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Karena gangguan bipolar cenderung memburuk tanpa pengobatan, penting untuk mengetahui apa saja gejala-gejala mirip. Mengenali masalah merupakan langkah pertama untuk mengendalikan gejala.
Gangguan bipolar (juga dikenal sebagai manik depresi) menyebabkan pergeseran serius dalam suasana hati, energi, berpikir, dan perilaku yang ekstrim (di satu sisi sangat bersemangat, di sisi lain sangat depresi). Lebih dari sekadar suasana hati yang berlangsung sekilas, gangguan bipolar dapat berlangsung berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Dan tidak seperti suasana hati biasa, perubahan suasana gangguan bipolar sangat hebat sehingga mereka mengganggu kinerja.
Selama episode manic, penderita begitu bersemangat bekerja, tidak begitu tertekan dengan tagihan utang, atau merasa cukup sehat walaupun istrihat cuma dua jam. Sedangkan selama episode depresi, penderita sangat malas bangun, penuh kebencian, putus asa, dan begitu tertekan dengan masalah social yang dialami.
Penyebab gangguan bipolar tidak sepenuhnya dipahami, tetapi sering kali terjadi dalam riwayat kesehatan keluarga (genetic). Periode pertama dari gangguan bipolar biasanya terjadi pada masa remaja atau awal dewasa. Gejala nyaris tidak diketahui karena jadi sesuatu yang biasa dirasakan dan membingungkan karena mirip dengan situasi hati. Oleh karena itu banyak orang yang mengabaikan gangguan bipolar.
Tanda dan Gejala
Tiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda. Tiap penderita memiliki varian, tingkat keparahan, dan frekuensi yang berbeda-beda. Beberapa orang lebih rentan terhadap baik mania atau depresi, sementara yang lain bergantian antara periode manik dan depresi.
Tanda dan gejala mania
Dalam fase manic gangguan bipolar memiliki energi tinggi, kreativitas, dan euforia. Orang-orang mengalami episode manik sering berbicara sangat cepat, tidur sangat sedikit, dan hiperaktif. Penderita gangguan bipolar jenis ini merasa diri sebagai yang terkuat, tak terkalahkan, atau ditakdirkan untuk menjadi orang besar.
Meskipun gejala manik ini menyenangkan, gejala manik memiliki kecenderungan untuk lepas kendali. Sebagai contoh, penderita sering berperilaku sembrono selama episode manik: menghabiskan tabungan, terlibat dalam aktivitas seksual yang tidak pantas, atau membuat investasi bisnis hitam. Penderita juga mudah marah, agresif-berkelahi, memukul ketika orang lain tidak menyetujui rencana mereka, dan menyalahkan siapa saja yang mengkritik perilaku mereka. Beberapa orang bahkan menjadi delusional atau mulai mendengar suara-suara aneh dalam dirinya.
Tanda dan gejala mania meliputi:
* Merasa sangat "tinggi" dan optimis atau sangat mudah marah
* Tidak realistis, keyakinan muluk tentang kemampuan seseorang atau kekuasaan
* Tidur sangat sedikit, tapi merasa sangat giat
* Berbicara sangat cepat sehingga orang lain tidak dapat mengikuti
* Pikiran melompat dengan cepat dari satu ide ke depan
* Sangat mudah terganggu, tidak mampu berkonsentrasi
* Diburukkan penilaian dan impulsif
* Bertindak secara serampangan tanpa berpikir tentang konsekuensi
* Delusi dan halusinasi (pada kasus yang berat)
Tanda dan gejala depresi bipolar
Di masa lalu, depresi bipolar disamakan dengan depresi biasa. Tetapi perkembangan penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya, terutama ketika berkonsultasi dengan psikiater. Kebanyakan orang dengan depresi bipolar tidak dibantu oleh antidepresan. Bahkan, ada risiko bahwa antidepresan dapat membuat gangguan bipolar dapat memicu lebih buruk-mania atau hypomania, menyebabkan gangguan kestabilan suasana hati.
Meskipun banyak kesamaan, gejala tertentu lebih sering terjadi pada depresi bipolar daripada depresi biasa. Sebagai contoh, depresi bipolar lebih cenderung menyebabkan penderita lekas marah, rasa bersalah, tidak bisa ditebak suasana hatinya serta perasaan gelisah. Orang-orang dengan depresi bipolar juga cenderung bergerak dan berbicara pelan-pelan, tidur banyak, dan berat badan bertambah. Selain itu, mereka lebih mungkin mengembangkan depresi psikotik-suatu kondisi di mana mereka telah kehilangan kontak dengan realitas-dan mengalami cacat besar dalam pekerjaan dan fungsi sosial.
Gejala depresi bipolar meliputi:
* Merasa putus asa, sedih, atau kosong.
* Iritabilitas
* Ketidakmampuan untuk mengalami kenikmatan
* Kelelahan atau kehilangan energi
* Kelesuan fisik dan mental
* Perubahan nafsu makan atau berat badan
* Masalah tidur
* Konsentrasi dan masalah memori
* Perasaan tidak berharga atau bersalah
* Pikiran tentang kematian atau bunuh diri
Tanda dan gejala episode campuran
Gangguan bipolar campuran merupakan kombinasi antara gejala manik dan depresi. Tanda-tanda umum episode campuran termasuk gejala depresi dikombinasikan dengan agitasi, iritabilitas, kegelisahan, insomnia, dan pikiran yang berubah-ubah sangat cepat. Kombinasi energi tinggi dan rendah ini membuat suasana hati yang sangat berisiko tinggi bunuh diri.
Pengobatan
Jika melihat gejala-gejala depresi bipolar pada diri sendiri atau orang lain, jangan menunggu untuk mendapatkan bantuan. Mengabaikan masalah tidak akan membuat gangguan hilang, bahkan akan bertambah buruk. Hidup dengan gangguan bipolar yang tidak diobati dapat menyebabkan masalah dalam segala hal dari karir, hubungan sosial dan kesehatan. Mendiagnosis masalah sedini mungkin dan mendapatkan pengobatan yang dapat membantu mencegah komplikasi ini sangat baik untuk mengatasi gangguan ini. Jika enggan untuk mencari pengobatan karena suka dengan suasana yang dirasakan ketika sedang dalam kondisi mania, ingatlah bahwa energi dan euforia berpotensi merusak, menyakiti diri sendiri dan orang-orang sekitar.
Dasar-dasar dari pengobatan gangguan bipolar
* Gangguan Bipolar memerlukan perawatan jangka panjang. Sejak gangguan bipolar menjadi masalah kronis seperti kambuh dari penyakit
yang diderita, penting untuk perawatan terus bahkan ketika penderita merasa lebih baik. Kebanyakan orang dengan gangguan bipolar memerlukan obat-obatan untuk mencegah episode baru dan tetap bebas dari gejala. Pengobatan tersebut dapat berupa:
* Obat saja biasanya tidak cukup untuk sepenuhnya mengendalikan gejala gangguan bipolar. Strategi pengobatan yang paling efektif untuk gangguan bipolar adalah dengan kombinasi obat, terapi, perubahan gaya hidup, dan dukungan sosial.
* Pengobatan juga dapat dilakukan dengan berkonsultasi dengan psikiater yang berpengalaman. Gangguan bipolar adalah suatu kondisi yang kompleks. Diagnosis bisa rumit dan perawatan seringkali sulit. Untuk alasan keamanan, obat-obatan harus dimonitor. Seorang psikiater yang terampil dalam pengobatan gangguan bipolar dapat membantu penderita menavigasi gangguan ini.
Deskripsi
Tiap manusia mengalami pasang surut emosi. Terkadang berada pada puncak emosi, namun terkadang merasa sangat depresi. Gangguan ini seperti memiliki dua kutub emosi, oleh karena itu disebut gangguan bipolar (Bipolar Disorder). Gejala gangguan bipolar dapat mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial, dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Meskipun gangguan bipolar ini bisa diobati, banyak orang tidak mengenali tanda-tanda peringatan dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Karena gangguan bipolar cenderung memburuk tanpa pengobatan, penting untuk mengetahui apa saja gejala-gejala mirip. Mengenali masalah merupakan langkah pertama untuk mengendalikan gejala.
Gangguan bipolar (juga dikenal sebagai manik depresi) menyebabkan pergeseran serius dalam suasana hati, energi, berpikir, dan perilaku yang ekstrim (di satu sisi sangat bersemangat, di sisi lain sangat depresi). Lebih dari sekadar suasana hati yang berlangsung sekilas, gangguan bipolar dapat berlangsung berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Dan tidak seperti suasana hati biasa, perubahan suasana gangguan bipolar sangat hebat sehingga mereka mengganggu kinerja.
Selama episode manic, penderita begitu bersemangat bekerja, tidak begitu tertekan dengan tagihan utang, atau merasa cukup sehat walaupun istrihat cuma dua jam. Sedangkan selama episode depresi, penderita sangat malas bangun, penuh kebencian, putus asa, dan begitu tertekan dengan masalah social yang dialami.
Penyebab gangguan bipolar tidak sepenuhnya dipahami, tetapi sering kali terjadi dalam riwayat kesehatan keluarga (genetic). Periode pertama dari gangguan bipolar biasanya terjadi pada masa remaja atau awal dewasa. Gejala nyaris tidak diketahui karena jadi sesuatu yang biasa dirasakan dan membingungkan karena mirip dengan situasi hati. Oleh karena itu banyak orang yang mengabaikan gangguan bipolar.
Tanda dan Gejala
Tiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda. Tiap penderita memiliki varian, tingkat keparahan, dan frekuensi yang berbeda-beda. Beberapa orang lebih rentan terhadap baik mania atau depresi, sementara yang lain bergantian antara periode manik dan depresi.
Tanda dan gejala mania
Dalam fase manic gangguan bipolar memiliki energi tinggi, kreativitas, dan euforia. Orang-orang mengalami episode manik sering berbicara sangat cepat, tidur sangat sedikit, dan hiperaktif. Penderita gangguan bipolar jenis ini merasa diri sebagai yang terkuat, tak terkalahkan, atau ditakdirkan untuk menjadi orang besar.
Meskipun gejala manik ini menyenangkan, gejala manik memiliki kecenderungan untuk lepas kendali. Sebagai contoh, penderita sering berperilaku sembrono selama episode manik: menghabiskan tabungan, terlibat dalam aktivitas seksual yang tidak pantas, atau membuat investasi bisnis hitam. Penderita juga mudah marah, agresif-berkelahi, memukul ketika orang lain tidak menyetujui rencana mereka, dan menyalahkan siapa saja yang mengkritik perilaku mereka. Beberapa orang bahkan menjadi delusional atau mulai mendengar suara-suara aneh dalam dirinya.
Tanda dan gejala mania meliputi:
* Merasa sangat "tinggi" dan optimis atau sangat mudah marah
* Tidak realistis, keyakinan muluk tentang kemampuan seseorang atau kekuasaan
* Tidur sangat sedikit, tapi merasa sangat giat
* Berbicara sangat cepat sehingga orang lain tidak dapat mengikuti
* Pikiran melompat dengan cepat dari satu ide ke depan
* Sangat mudah terganggu, tidak mampu berkonsentrasi
* Diburukkan penilaian dan impulsif
* Bertindak secara serampangan tanpa berpikir tentang konsekuensi
* Delusi dan halusinasi (pada kasus yang berat)
Tanda dan gejala depresi bipolar
Di masa lalu, depresi bipolar disamakan dengan depresi biasa. Tetapi perkembangan penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya, terutama ketika berkonsultasi dengan psikiater. Kebanyakan orang dengan depresi bipolar tidak dibantu oleh antidepresan. Bahkan, ada risiko bahwa antidepresan dapat membuat gangguan bipolar dapat memicu lebih buruk-mania atau hypomania, menyebabkan gangguan kestabilan suasana hati.
Meskipun banyak kesamaan, gejala tertentu lebih sering terjadi pada depresi bipolar daripada depresi biasa. Sebagai contoh, depresi bipolar lebih cenderung menyebabkan penderita lekas marah, rasa bersalah, tidak bisa ditebak suasana hatinya serta perasaan gelisah. Orang-orang dengan depresi bipolar juga cenderung bergerak dan berbicara pelan-pelan, tidur banyak, dan berat badan bertambah. Selain itu, mereka lebih mungkin mengembangkan depresi psikotik-suatu kondisi di mana mereka telah kehilangan kontak dengan realitas-dan mengalami cacat besar dalam pekerjaan dan fungsi sosial.
Gejala depresi bipolar meliputi:
* Merasa putus asa, sedih, atau kosong.
* Iritabilitas
* Ketidakmampuan untuk mengalami kenikmatan
* Kelelahan atau kehilangan energi
* Kelesuan fisik dan mental
* Perubahan nafsu makan atau berat badan
* Masalah tidur
* Konsentrasi dan masalah memori
* Perasaan tidak berharga atau bersalah
* Pikiran tentang kematian atau bunuh diri
Tanda dan gejala episode campuran
Gangguan bipolar campuran merupakan kombinasi antara gejala manik dan depresi. Tanda-tanda umum episode campuran termasuk gejala depresi dikombinasikan dengan agitasi, iritabilitas, kegelisahan, insomnia, dan pikiran yang berubah-ubah sangat cepat. Kombinasi energi tinggi dan rendah ini membuat suasana hati yang sangat berisiko tinggi bunuh diri.
Pengobatan
Jika melihat gejala-gejala depresi bipolar pada diri sendiri atau orang lain, jangan menunggu untuk mendapatkan bantuan. Mengabaikan masalah tidak akan membuat gangguan hilang, bahkan akan bertambah buruk. Hidup dengan gangguan bipolar yang tidak diobati dapat menyebabkan masalah dalam segala hal dari karir, hubungan sosial dan kesehatan. Mendiagnosis masalah sedini mungkin dan mendapatkan pengobatan yang dapat membantu mencegah komplikasi ini sangat baik untuk mengatasi gangguan ini. Jika enggan untuk mencari pengobatan karena suka dengan suasana yang dirasakan ketika sedang dalam kondisi mania, ingatlah bahwa energi dan euforia berpotensi merusak, menyakiti diri sendiri dan orang-orang sekitar.
Dasar-dasar dari pengobatan gangguan bipolar
* Gangguan Bipolar memerlukan perawatan jangka panjang. Sejak gangguan bipolar menjadi masalah kronis seperti kambuh dari penyakit
yang diderita, penting untuk perawatan terus bahkan ketika penderita merasa lebih baik. Kebanyakan orang dengan gangguan bipolar memerlukan obat-obatan untuk mencegah episode baru dan tetap bebas dari gejala. Pengobatan tersebut dapat berupa:
* Obat saja biasanya tidak cukup untuk sepenuhnya mengendalikan gejala gangguan bipolar. Strategi pengobatan yang paling efektif untuk gangguan bipolar adalah dengan kombinasi obat, terapi, perubahan gaya hidup, dan dukungan sosial.
* Pengobatan juga dapat dilakukan dengan berkonsultasi dengan psikiater yang berpengalaman. Gangguan bipolar adalah suatu kondisi yang kompleks. Diagnosis bisa rumit dan perawatan seringkali sulit. Untuk alasan keamanan, obat-obatan harus dimonitor. Seorang psikiater yang terampil dalam pengobatan gangguan bipolar dapat membantu penderita menavigasi gangguan ini.
Langganan:
Postingan (Atom)